MENCINTAI PERBEDAAN DI PERTUNJUKAN TEATRIKAL SENANDIKA

 

Perbedaan yang dulu jadi kekuatan, sekarang malah sering jadi alasan untuk mengkotak-kotakan manusia. Padahal di negara kepulauan dengan luas lebih dari 1.000 miliar kilometer persegi,rasanya mustahil jika Indonesia harus memiliki masyarakat yang seragam. Tak perlu berbicara budaya orang yang berada di seberang pulau, keluar dari rumah dengan jarak hanya beberapa meter saja, sangat mungkin ditemui perbedaan yang asing.

Ketika berbagai isu tentang perbedaan ini semakin menggema, semakin ricuh pula opini mengalir di masyarakat. Di negara yang masih terus berusaha untuk menyempurnakan demokrasinya, tentu suara vokal diperlukan dan patut diapresiasi. Tapi kadang yang menakutkan adalah bagaimana opini ini berebut untuk dipercayai sebagai kebenaran yang tunggal. Yang terjadi adalah setiap pendapat diyakini sebagai yang paling benar dan harus diamini oleh semua masyarakat tanpa terkecuali.

Dengan keadaan seperti ini, bertumbuh di zaman sekarang jadi terasa lebih berat. Situasi inilah yang kemudian membuat Poemuse tergerak menyajikan pertunjukan seni panggung berjudul Senandika.

Senandika menceritakan bagaimana sulitnya menjadi diri sendiri di tengah arus argumentasi dan opini yang begitu deras mengalir dari luar. Pertunjukan ini disuguhkan dalam bentuk musik teatrikal yang terinspirasi oleh karya musik komposer Indonesia yang menggarap sastra dalam bentuk musik.

Pertunjukan digelar di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung pada Minggu lalu, 14 Mei 2017. Di panggung ini ada puisi karya penyair tanah air ditampilkan, berpadu dengan musik dan tarian lengkap dengan olah vokalnya.

Beberapa puisi yang menjadi bagian pagelaran ini diantaranya Sajak Kecil tentang Cinta karya Sapardi Djoko Damono, Sajak Bumi Hijau karya WS Rendra, Meninggalkan Kandang karya Eka Budianta, hingga Melihat Api Bekerja karya Aan Mansyur.

Senandika disutradarai oleh Kennya Rinonce yang merupakan bagian dari Poemuse. Tarian yang mengiringi pentas adalah Galuh Pangesti. Setelah sukses tampil di IFI Bandung, Poemuse lantas terbang ke Makassar untuk mengisi Makassar International Writers Festival 2017 yang bertempat di Fort Rooterdam.

Di tengah kebingungan untuk bersuara di zaman sekarang, mengeluarkan pendapat akan lebih baik jika dibarengi dengan pengetahuan. Jangan asal mengeluarkan kata-kata gegabah yang bisa menjadi pedang yang menyakiti. Sejalan dengan itu, toleransi dan rasa saling mengerti juga dibutuhkan, jangan gampang sakit dengan pendapat orang. Terima informasi dengan mencernanya terlebih dahulu secara logis. Jika sudah terlanjur tersesat, mengingat nasehat yang dibalut dalam bahasa sastra yang indah seperti puisi dan seni, bisa jadi jawaban yang mengingatkan kembali untuk membuka cakrawala berpikir.

 

Mencintai Perbedaan di Pertunjukan Teatrikal Senandika

Oleh: Aulia Fitrisari | www.itjeher.com | 23 Mei 2017 | 08.00 WIB

 

 

POEMUSE RACIK SENANDIKA DARI PUISI, LAGU, TARI

 

JAKARTA. Menyuarakan pendapat bukan barang mewah sekarang ini. Dengan ponsel di tangan, setiap orang merasa berhak didengar setiap kali jempol beraksi di atas papan ketik. Hari-hari menjadi lebih bising.

Inilah yang mendorong Kennya Rinonce dan empat kawannya menghadirkan pertunjukan bertajuk Senandika untuk menyuarakan kegelisahan yang terlanjur dibuat oleh kebisingan mengatasnamakan perbedaan sebagai pemicunya, Minggu (14/5), di Institut Francais Indonesia, Bandung.

Dalam Senandika, Kennya meracik pertunjukan bauran dari cuplikan puisi karya penyair-penyair dalam negeri, seni suara, musik, dan tarian.

Karya puisi yang dihadirkan antara lain Sajak Kecil tentang Cinta karya Sapardi Djoko Damono, Meninggalkan Kandang dari Eka Budianta, Sajak Bumi Hijau karya WS Rendra, dan Melihat Api Bekerja besutan Aan Mansyur.

Mereka menamakan diri Poemuse Indonesia: puisi dan musik. Sebagai sutradara, Kenya menggandeng penyanyi tenor Daniel Victor dan penyanyi soprano Delta Damiana. Berbeda dengan pertunjukan puisi musikal umumnya, Sendika ini dibalut permainan alat musik oleh Nicholas Rio dan tarian Galuh Pangestri.

“Kami ingin bercerita, bagaimana sulitnya menjadi diri sendiri di tengah arus argumentasi dan opini yang begitu deras mengalir dari luar,” tulis Poemuse, dalam rilis yang diterima KONTAN.

Pecinta puisi dan musik menyukai pertunjukan ini. “Poemuse: Senandika apik. Beberapa adegan di dalamnya buat saya merinding. Kerja yang luhur,” tulis akun Twitter @perempuansore.

Pecinta aksara yang ingin menikmati pertunjukan segar ini, masih bisa menikmati pertunjukkan Poemuse pada 19 Mei mendatang di Makassar International Writers Festival 2017 di Fort Rooterdam, Makassar.

 

http://lifestyle.kontan.co.id/news/poemuse-menyulap-kebisingan-jadi-nyanyian-puisi

Oleh : Sanny Cicilia | KONTAN | Minggu, 14 Mei 2017 | 23:00 WIB

 

 

PUISI YANG MENARI

 

Sebelum puisi, cuma ada sepi. Lampu-lampu redup seolah tanpa gairah. Pada detik kesekian, diam-diam waktu menari. Irama terseok-seok mengikuti gerak lunglai yang merayap di lantai. Mendadak, ketika sebuah cermin pecah, musik membuncah. Dan puisi pun menari.

Begitulah cara sekelompok anak muda yang tergabung dalam Poemuse merespons situasi yang tak mudah diprediksi dan diidentifikasi. Semua orang memiliki argumentasi dan opini yang berseliweran tanpa henti. Realitas, yang menurut Guru Besar Filsafat dan Estetika Universitas Parhyangan, Bandung, Bambang Sugiharto, sungguh liar ini membutuhkan permenungan yang mendalam. Apalagi kini, katanya, agama justru digunakan untuk tujuan kekuasaan dengan jalan mendiskreditkan dan memecah belah. Agama yang mengajarkan kebaikan berbalik menyerang dan menjatuhkan. Pada pentas khusus pers dan pengamat karya bertajuk “Senandika”, Kamis (11/5) di IFI Bandung, sutradara muda Kennya Rinonce terobsesi pada pernyataan John Keating (Robin Williams) dalam film legendaris Dead Poets Society.

Kepada murid-murid di Welton Academy yang terkenal konservatif, Keating berujar, “Kita tidak membaca dan menulis puisi karena itu lucu. Kita membaca dan menulis puisi karena kita adalah anggota umat manusia. Dan umat manusia dipenuhi dengan gairah. Obat-obatan, hukum, bisnis, dan teknik ini adalah usaha yang mulia dan perlu untuk mempertahankan kehidupan. Tetapi, puisi, kecantikan, asmara, cinta, inilah yanf (membuat) kita tetap hidup…” Rupanya Dead Poets Society tak hanya untuk anak-anak Welton Academy, generasi milenialn seperti Kennya, meyakini kata-kata Keating adalah “mantra” yang mempersatukan kawan-kawannya.

Bertemulah mereka, Kennya, Galuh Pangestri (penari), Daniel Victor (tenor), Delta Damiana (soprano), dan Nicholas Rio (pianis), lalu menyanyikan puisi-puisi karya penyair kenamaan Indonesia. Mereka akan mempertunjukkan “Senandika” ke hadapan publik, Minggu (14/5) di IFI Bandung pukul 19.00. Puisi memang tak memberi jawaban atas realitas. Namun, karya-karya penyair, seperti Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Kirdjomuljo, Sanusi Pane, Chairil Anwar, WS Rendra, Eka Budianta, Joko Pinurbo, Rieke Diah Pitaloka, serta komponis Mochtar Embut dan Ibu Sud, seperti mendapatkan ruang di hati anak-anak muda. Mereka memperlakukan puisi sebagai medium permenungan untuk mencari jawaban ke dalam diri.

Kennya membangun komposisi adegan yang metaforik. Pada adegan menuju klimaks digambarkan tenor Daniel Victor melantunkan suara azan, soprano Delta Damiana menyenandungkan “Ave Maria”, pianis Nicholas Rio memainkan Janger Bali, dan penari Galuh Pangestri menembangkan “Saman”. Keempat tokoh ini dalam waktu bersamaan menyuarakan perbedaan. Bukankah itu tembang tentang kebangsaan? Perbedaan bahasa dan cara membawakannya menjadi mozaik kekayaan yang melahirkan orkestrasi tentang keindahan keberagaman.

CERMIN DIBELAH

Tragisnya, ketika komposisi kebangsaan itu dibelah-belah, bagaimana mungkin kita bisa bercermin sebagai bangsa yang plural? Itulah adegan klimaks yang menyayat-nyayat hati. Galuh menari di atas cermin retak. Dengan kakinya yang garang, sekeping demi sekeping cermin itu pecah dan kemudian terbelah menjadi bagian-bagian yang tercerai-berai. Sebagian pecahan cermin itu bahkan meluncur ke arah penonton yang duduk melingkar di sisi panggung pementasan. Adegan ini lebih mengiris lagi jika kita beri tafsir: di dalam diri yang retak, cermin terbelah hanya menambah luka. Ia tak mampu menjadi wahana permenungan sebab keretakan itu elah lama menjadi milik masing-masing. Inilah yang mewakili kegelisahan Kennya ketika memindai realitas di sekitar dirinya. “Kami banyak gairah, tetapi kurang permenungan,” begitu kata Kennya. Realitas di sekitar diri, tambahnya, campur aduk dan begitu berisik. Generasi ini emosi melihat kenyataan, tetapi tidak tahu harus berbuat apa-apa. “Intinya, kami juga marah,” kata Kennya, ketika menyaksikan perebutan kekuasaan yang semakin banal. Pada akhirnya, mereka menemukan puisi, dan puisi itu mereka tarikan, mereka mainkan dalam lagu dan musik, “hanya” sebagai medium merebut “kebebasan” diri. Sebab, puisi adalah sublimasi kata-kata yang diperas penyair dari sari-sari kehidupan. Dan akrena itu, ia kaya akan permenungan, yang pada akhirnya memberi ketenangan untuk kemudian menyadari bahwa semua bermuara kepada Sang Pemberi Hidup. Karena itu pulalah, pada bagian akhir adegan mereka menyenandungkan puisi “Yang Fana Adalah Waktu” dari Sapardi Djoko Damono dengan gubahan musik Ananda Sukarlan. //Yang fana adalah waktu, kita abadi//Memungut detik demi detik//Merangkainya seperti bunga//Sampai pada suatu hari//Kita lupa untuk apa//”Tapi yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu//Kita abadi//. Sampai di situ, Dead Poets Society menjadi pemberi gairah anak-anak muda dan tentu saja orang-ornag di sekitar mereka. Bahwa hidup menjadi lebih berwarna dan penuh gairah karena puisi menyodorkan tarian, musik, dan lagu, yang membuat kita lebih santun, bermartabat, dan menjunjung tinggi kemuliaan sebagai bangsa manusia.

 

http://print.kompas.com/galeri/foto/detail/2017/05/13/Puisi-yang-Menari

Oleh: Putu Fajar Arcana | KOMPAS | 13 Mei 2017

Simak juga testimoni Putu Fajar Arcana mengenai Senandika di link Youtube Poemuse