PUISI YANG MENARI

 

Sebelum puisi, cuma ada sepi. Lampu-lampu redup seolah tanpa gairah. Pada detik kesekian, diam-diam waktu menari. Irama terseok-seok mengikuti gerak lunglai yang merayap di lantai. Mendadak, ketika sebuah cermin pecah, musik membuncah. Dan puisi pun menari.

Begitulah cara sekelompok anak muda yang tergabung dalam Poemuse merespons situasi yang tak mudah diprediksi dan diidentifikasi. Semua orang memiliki argumentasi dan opini yang berseliweran tanpa henti. Realitas, yang menurut Guru Besar Filsafat dan Estetika Universitas Parhyangan, Bandung, Bambang Sugiharto, sungguh liar ini membutuhkan permenungan yang mendalam. Apalagi kini, katanya, agama justru digunakan untuk tujuan kekuasaan dengan jalan mendiskreditkan dan memecah belah. Agama yang mengajarkan kebaikan berbalik menyerang dan menjatuhkan. Pada pentas khusus pers dan pengamat karya bertajuk “Senandika”, Kamis (11/5) di IFI Bandung, sutradara muda Kennya Rinonce terobsesi pada pernyataan John Keating (Robin Williams) dalam film legendaris Dead Poets Society.

Kepada murid-murid di Welton Academy yang terkenal konservatif, Keating berujar, “Kita tidak membaca dan menulis puisi karena itu lucu. Kita membaca dan menulis puisi karena kita adalah anggota umat manusia. Dan umat manusia dipenuhi dengan gairah. Obat-obatan, hukum, bisnis, dan teknik ini adalah usaha yang mulia dan perlu untuk mempertahankan kehidupan. Tetapi, puisi, kecantikan, asmara, cinta, inilah yanf (membuat) kita tetap hidup…” Rupanya Dead Poets Society tak hanya untuk anak-anak Welton Academy, generasi milenialn seperti Kennya, meyakini kata-kata Keating adalah “mantra” yang mempersatukan kawan-kawannya.

Bertemulah mereka, Kennya, Galuh Pangestri (penari), Daniel Victor (tenor), Delta Damiana (soprano), dan Nicholas Rio (pianis), lalu menyanyikan puisi-puisi karya penyair kenamaan Indonesia. Mereka akan mempertunjukkan “Senandika” ke hadapan publik, Minggu (14/5) di IFI Bandung pukul 19.00. Puisi memang tak memberi jawaban atas realitas. Namun, karya-karya penyair, seperti Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Kirdjomuljo, Sanusi Pane, Chairil Anwar, WS Rendra, Eka Budianta, Joko Pinurbo, Rieke Diah Pitaloka, serta komponis Mochtar Embut dan Ibu Sud, seperti mendapatkan ruang di hati anak-anak muda. Mereka memperlakukan puisi sebagai medium permenungan untuk mencari jawaban ke dalam diri.

Kennya membangun komposisi adegan yang metaforik. Pada adegan menuju klimaks digambarkan tenor Daniel Victor melantunkan suara azan, soprano Delta Damiana menyenandungkan “Ave Maria”, pianis Nicholas Rio memainkan Janger Bali, dan penari Galuh Pangestri menembangkan “Saman”. Keempat tokoh ini dalam waktu bersamaan menyuarakan perbedaan. Bukankah itu tembang tentang kebangsaan? Perbedaan bahasa dan cara membawakannya menjadi mozaik kekayaan yang melahirkan orkestrasi tentang keindahan keberagaman.

CERMIN DIBELAH

Tragisnya, ketika komposisi kebangsaan itu dibelah-belah, bagaimana mungkin kita bisa bercermin sebagai bangsa yang plural? Itulah adegan klimaks yang menyayat-nyayat hati. Galuh menari di atas cermin retak. Dengan kakinya yang garang, sekeping demi sekeping cermin itu pecah dan kemudian terbelah menjadi bagian-bagian yang tercerai-berai. Sebagian pecahan cermin itu bahkan meluncur ke arah penonton yang duduk melingkar di sisi panggung pementasan. Adegan ini lebih mengiris lagi jika kita beri tafsir: di dalam diri yang retak, cermin terbelah hanya menambah luka. Ia tak mampu menjadi wahana permenungan sebab keretakan itu elah lama menjadi milik masing-masing. Inilah yang mewakili kegelisahan Kennya ketika memindai realitas di sekitar dirinya. “Kami banyak gairah, tetapi kurang permenungan,” begitu kata Kennya. Realitas di sekitar diri, tambahnya, campur aduk dan begitu berisik. Generasi ini emosi melihat kenyataan, tetapi tidak tahu harus berbuat apa-apa. “Intinya, kami juga marah,” kata Kennya, ketika menyaksikan perebutan kekuasaan yang semakin banal. Pada akhirnya, mereka menemukan puisi, dan puisi itu mereka tarikan, mereka mainkan dalam lagu dan musik, “hanya” sebagai medium merebut “kebebasan” diri. Sebab, puisi adalah sublimasi kata-kata yang diperas penyair dari sari-sari kehidupan. Dan akrena itu, ia kaya akan permenungan, yang pada akhirnya memberi ketenangan untuk kemudian menyadari bahwa semua bermuara kepada Sang Pemberi Hidup. Karena itu pulalah, pada bagian akhir adegan mereka menyenandungkan puisi “Yang Fana Adalah Waktu” dari Sapardi Djoko Damono dengan gubahan musik Ananda Sukarlan. //Yang fana adalah waktu, kita abadi//Memungut detik demi detik//Merangkainya seperti bunga//Sampai pada suatu hari//Kita lupa untuk apa//”Tapi yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu//Kita abadi//. Sampai di situ, Dead Poets Society menjadi pemberi gairah anak-anak muda dan tentu saja orang-ornag di sekitar mereka. Bahwa hidup menjadi lebih berwarna dan penuh gairah karena puisi menyodorkan tarian, musik, dan lagu, yang membuat kita lebih santun, bermartabat, dan menjunjung tinggi kemuliaan sebagai bangsa manusia.

 

http://print.kompas.com/galeri/foto/detail/2017/05/13/Puisi-yang-Menari

Oleh: Putu Fajar Arcana | KOMPAS | 13 Mei 2017

Simak juga testimoni Putu Fajar Arcana mengenai Senandika di link Youtube Poemuse

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *